Dec
11

Sejarah pemikiran ekonomi ( Aliran Ratex)

Aliran Ratex
( Rational Expektation )
A. TOKOH-TOKOH RATEX
Tokoh-tokoh ratex cukup banyak antara lain : Robert lucas dari University of Chicago, Thomas Sargeant, Neil Wallace dari University of Minnesota, Robert barro dari University of Rochester, Leonard Rapping, Edward Prescott, David Begg, Steven Shefrin, John Muth dan banyak lagi yang lainnya.
Robert Lucas dianggap sebagai tokoh utama. Tetapi lucas tidak dapat dikatakan sebagai tokoh utama, sebab ide tentang ekspektasi rasional sudah dikembangkan oleh John Muth sejak tahun 1961, yang dapat di ikuti dalam tulisannya “ Rational Expectations and The Theory of price Movements. Premis utama yang dikemukan muth dalam tulisannya adalah bahwa ekspektasi tiap orang bersifat rasional bila ekspektasi tersebut identik dengan prediksi model. Pemikiran ini kemudian dikembangkan oleh Robert Lucas dan Leonard Rapping tahun 1969, sehingga ide tentang ekspektasi rasional menjadi lebih popular.
Dalam pengembangan mmodel-model ekonomi, pakar-pakar aliran ratek ini menggunakan beberapa preposisi, antara lain :
• bahwa orang-orang atau unit-unit ekonomi akan membuat perkiraan ( ekspektasi )
• bahwa orang menggunakan informasi yang ada padanya secara efisien
• bahwa orang tidak membuat kesalahan secara sistematis dalam ekspektasi mereka
• bahwa orang akan bereaksi secara rasional terhadap kebijaksanaan yang dilakukan demi kepentingan pribadi masing-masing
Tokoh-tokoh dan para simpatisan Ratex telah banyak menulis karya-karyanya antara lain : Thomas Segeant dan Neil Wallace dalam tulisannya “Rational Expectations and the Theory of Economic Policy (1976), Robert lucas “ Studies in Bussines cycle Theory (1981), Steven Sheffrin “ the Rational Expectation Revolution in Macro economics (1983)

B. UNSUR EKSPEKTASI DALAM PEREKONOMIAN
selama periode 1970 an struktur bepikir neo- Keynesian, moneteris dan aliran sisi penawaran mendominasi teori-teori dan pemikiran-pemikiran dan kebijaksanaan ekonomi makro. Jika diperhatikan ketiga pendekatan tersebut mempunyai kelemahan, yaitu tidak memperhatikan unsure ekspektasi dari kebijaksanaan-kebijaksanaan ekonomi ( fiscal dan moneter) yang diambil. Padahal, demikian pendapat dari pakar Ratek, unsure ekspektasi memegang peranan cukup penting dalam penentuan aktivitas-aktivitas ekonomi.
Ekspektasi atau ramalan tentang masa depan dibuat berdasarkan segala informasi yang ada padanya , apakah itu dari informasi pasar,kebijaksanaan pemerintah, perkembangan internasional, dan sebagainya. Dalam hal ini pakar Ratek mengakui bahwa untuk memasukan factor ekspektasi tentang masa depan memang tidak mudah. Akan tetapi, dengan semakin banyaknya informasi dan semakin canggihnya teknik dan sarana analisis, maikin mudah menyusun ekspektasi tersebut.
Setelah ekspektasi disusun, maka unit-unit ekonomi akan menggunakan informasi yang mereka peroleh untuk menantisipasi setipa perubahan kebijaksannaan demi menyelamatkan kepentingan mereka masing-masing. Pelku-pelaku ekonomi rasional selalu akan menyesuaikan ekspektasi mereka dengan pengalaman-pengalaman masa lalu. Orang belajar dari kesalahan masa lalu. Pada umumnya orang hanya melalkukan kesalahan secara acak, tetapi tidak dalam jangka panjang atau sistematis.

C. IMPLIKASI KEBIJAKSANAAN
Pemerintah terlalu sering menggunakan jurus-jurus rahasia yang tidak terduga, dampak negativnya adalah runtuhnya kredibilitas masyarakat dimata masyarakat. Para pakar Ratex meragukan bahwa para ahli ekonomi cukup tahu bagaimana masyarakat akan bereaksi terhadap perubahan-perubahan kebijaksanaan yang dilakukan. Sebab ekspektasi masyarakat sangat tergantung pada ekspektasi mereka. Sebagaimana diungkapkan Lucas “ as an advice-giving profession we are in way over our heads”
Kaum Ratek percaya seperti halnya kaum klasik bahwa perekonomian selalu berada pada posisi keseimbangan. Maka pakar Ratex percaya bahwa teori atau kebijaksanaan apapun untuk menghadapi masalah-masalah ekonomi tidak pernah komplit.
Untuk itu sebaiknya pemerintah tidak terlau sering mengeluarkan kebijaksanaan yang macam-macam, sebab dampaknya akan discounter oleh para pelaku ekonomi yang dampaknya justru merugikan.
Kebijaksanaan pemerintah menjadi tidak efektif karena, sesuai pendapat Friedman dari kub moneteris, adanya factor lag.dalam menformulasikan kebijaksanaan sebaiknya pemerintah telah mengasumsikan bahwa orang tahu bagaimana bekerjanya suatu kebijaksanaan. Jika pemerintah sudah sadar akan hal ini maka ia tidak akan mengeluarkan kebijaksanaan yang macam-macam. Adapun kebijaksanaan yang terbaik adalah kebijaksanaan sederhana tentang hal yang pokok-pokok saja, yang dikeluarkan secara transparan, sehingga orang mau ikut aktif berpartisipasi dalam pembangunan ekonomi.

D. PRO DAN KONTRA
Dalam tulisannya Robert lucas “ some International Evidence on Output-inflation Trade-offs (1973) menjelaskan tentang hubungan antara jumlah uang dengan siklus ekonomi. Untuk menjelaskan hubungan tersebut ia menelaah dan meninjau kembali teori Trade-offs antara pengangguran dan inflasi yang dikembangkan oleh Philips. Dan ia menyimpulkan bahwa hanya perubahan yang tidak terantisipasi saja yang dapat mempengaruhi output rill. Tetapi jika perubahan tersebut dapat dinrisipasi dengan baik oleh pelaku ekonomi, maka dampaknya terhadap output rill menjadi nihil, sebaliknya justru hanya akan menimbulkan inlasi belaka.
Pendapat lucas tersebut sangat menarik perhatian para pakar ekonomi, sebab jika benar demikian berarti kebijaksanaan moneter tidak ampuh digunakan sebagai alat untuk mempengaruhi output dan kesempatan kerja. Sebagai reaksi diatas preposisi lucas tesebut banyak pakar ekonomi melakukan penelitian empiris. Dari berbagai hasil penelitian yang dilakukan ada yang mendukung dan ada pula yang membantah preposisi lucas.
Mereka yang mendukung adalah Thomas sergeant dan Neil Wallace dalam tulisan mereka “ Rational expectations, the optimal monetary Instrument and the optimal money supply rule (1975)”, bahwa kebijaksanaan moneter memang tidak efektif baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang. Begitu juga Robert Barro dalam “ Unanticipated Money,output,and the price level in united states (1976)”.
Tetapi dipihak lain ada juga yang mambantah preposisi lucas antara lain Fredric mishkin dalam “ does anticipated monetary policy matter?an econometric investigation(1982)” dan Robert Gordon dalam “ Price inertia and policy ineffectiveness in united states 1890-1980 (1982)” mereka meragukan preposisi lucas bahwa kebijaksanaan moneter secara sistematis tidak member dampak terhadap output.
Dan pendapat yang agak netral dating dari Robert king dan Charles plosser. Dalam “Money credit and prices in a real Bussines Cycle nodel (1984)” mereka menjelaskan bahwa ada hubungan antara jumlah stok uang dengan output, tetapi tidak ada jaminan bahwa jumlah uang yang mempengaruhi output tersebut dan sebaliknya.

E. DISKUSI
Ratex telah berjasa mempertajam, kalu tidak bias mempelopori,penggunaan dasar-dasar teori mikro dan model-model mekanisme pasar bebas kedalam analisis makro. Mereka dianggap sangat berjasa telah menemukan kerangka teoritis yang dianggap lebih fundamental. Yang disebut pendekatan keseimbangan ekspektasi-ekspektasi rasional.pendekatan ini dibangun dengan tujuan agar semua teori-teori makro didasarkan pada teori-teori mikro yang kokoh, dimana tiap orang berusaha memaksimimkan well beingnya. Anggapan pasar selalu berada dalam posisi keseimabngan jauh lebih mendasar dari sekedar asumsi ekspektasi rasional.

MAKALAH
SEJARAH PEMIKIRAN EKONOMI
Tentang
“ALIRAN RATEX”

Oleh kelompok 13 :
Dicky Hendra Mulyadi 98479 / 09
Mery Fatmawati 13315 / 09
Irwan Syukriandi 77696 / 06

PENDIDIKAN EKONOMI
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2010

One Response

  • Disini aku mau nanya, :)
    Kalau ekspetasi rasional sama atau engga dengan teori kuantitas ?
    Terimakasih sebelumnya :)

Leave a Reply

Delicious


Calendar

December 2011
M T W T F S S
« Jul   Feb »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031